16 February 2012

Konsep Technical and Vocational Education and Training (TVET) dan Perspektifnya pada Pendidikan di Indonesia



Pengertian TVET

Dalam berbagai literatur berkaitan dengan pendidikan kejuruan berbahasa asing (Bahasa Inggris) sering dijumpai istilah TVET. Kepanjangan dari TVET adalah Technical and Vocational Education and Training. Istilah tersebut terdiri dari 4 (empat) kata inti, yaitu: (1) Technical; (2) Vocational; (3) Education, dan (4) Training. Apabila dikaji secara mendalam ada perbedaan makna yang sangat jauh antara Technical dengan Vocational dan antara Education dengan Training.
Apabila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, education memiliki arti pendidikan, dan training memiliki arti pelatihan. Pendidikan dan pelatihan memiliki tujuan yang sama yaitu terjadinya perubahan perilaku ke arah yang lebih sesuai dengan yang diinginkan. Secara umum, keduanya berhubungan dengan belajar dan perubahan pada diri manusia, akan tetapi secara khusus memiliki perbedaan tujuan spesifik yang ingin dicapai. Pendidikan lebih mengarah pada pengetahuan dan hal-hal yang bersifat umum, terkait dengan kehidupan pribadi secara luas, dan less tangible. Pelatihan lebih mengarah pada keterampilan berperilaku secara khusus dan ada ukuran benar atau salah, dan more tangible. Secara sederhana dapat diartikan bahwa pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat lebih spesifik (mikro).
Kemudian, apabila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, technical memiliki arti teknik, dan vocational memiliki arti kejuruan. Kedua istilah tersebut akan memiliki batasan yang jelas apabila digabungkan dengan kata pendidikan sehingga menjadi pendidikan teknik dan pendidikan kejuruan. Pendidikan teknik diartikan sebagai program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level teknisi atau sub profesional, yang biasanya tingkatannya berada satu level di atas craftsman akan tetapi levelnya berada di bawah profesional. Pendidikan kejuruan diartikan program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level craftsman atau perusahaan pada level dasar.
Pada konteks Bangsa Indonesia, dengan berdasarkan pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 15, vocational education telah terkontekskan sebagai pendidikan kejuruan, sedangkan technical eductaion telah terkontekskan dengan pendidikan vokasi. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana. Untuk mengetahui posisi pendidikan kejuruan dan pendidikan vokasi dalam Sistem Pendidikan Nasional bisa dilihat pada Gambar 1.
Dengan demikian, apabila istilah TVET diartikan secara penuh kedalam Bahasa Indonesia akan menjadi Pendidikan dan Pelatihan Teknik dan Kejuruan atau disingkat PPTK. Secara konsep, istilah PPTK akan memayungi semua pendidikan di Indonesia yang bertujuan untuk mencetak tenaga kerja. Akan tetapi, di dalam berbagai literatur Bahasa Indonesia, penggunaan istilah PPTK sangat jarang ditemukan. Pada literatur-literatur tersebut lebih sering menggunakan kata Pendidikan Kejuruan daripada PPTK. Demikian juga pada website resmi UNEVOC, pendidikan kejuruan dan pendidikan vokasi disebut dalam satu istilah, yaitu Vocational Education, yang artinya adalah Pendidikan Kejuruan (Gambar 2). Apabila dipahami secara mendalam, akan ditemukan suatu kerancuan yang nyata apabila kita kembali berkiblat kepada  penjelasan Sisdiknas nomor 20 Tahun 2003 Pasal 15 bahwa istilah pendidikan kejuruan hanya dibatasi pada tingkat menengah.
Kemudian di berbagai negara atau organisasi banyak variasi istilah yang dimaksudkan untuk menyebut TVET. TVET sendiri merupakan istilah yang digunakan oleh UNESCO. CTE (Career and Technical Education) merupakan istilah yang digunakan di Amerika Serikat. FET (Further Education and Training) merupakan istilah yang digunakan di Inggris dan Afrika Selatan. VTET (Vocational and Technical Education and Training) merupakan istilah yang dipergunakan di Asia Tenggara. VET (Vocational Education and Training) dan VTE (Vocational and Technical Education) merupakan istilah yang digunakan di Australia.





Gambar 1. Skema Pendidikan Indonesia di dalam Perspektif UU Sistem Pendidikan Nasional
Gambar 2. Skema Pendidikan Indonesia di dalam Perspektif UNEVOC

Rasionalisasi Keberadaan TVET

Secara logis, globalisasi telah meningkatkan persaingan pasar dan meningkatkan kualifikasi kebutuhan akan pekerja. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin efektif dan efisien turut serta memperpanas iklim persaingan pasar. Kecepatan dan ketepatan pelayanan terhadap pelanggan menjadi hal yang utama dan dijadikan pandangan ideal atas keberhasilan dalam persaingan pasar. Kemudian, kebutuhan pekerja dengan kualifikasi tinggi juga sangat signifikan. Pekerja yang bersifat monoton sudah tidak diperlukan lagi dalam era globalisasi ini, akan tetapi pekerja dengan kemampuan berpikir tingkat tinggilah yang akan diperlukan.  Pekerja yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dinilai memiliki kemampuan untuk selalu bisa berkreasi, berinovasi, dan mengembangkan kompetensinya sehingga memberikan dampak positif bagi tempat dia bekerja.
Secara ringkas, globalisasi yang terdiri dari aspek pergerakan ekonomi, sosial, budaya dan politik, telah menggerakkan konsep-konsep mengenai pekerjaan. Pekerjaan di era globalisasi terdiri dari 3 (tiga) aspek penting, yaitu: (1) di dalam pekerjaan ada upah yang rutin dan jelas; (2) secara subjektif merupakan suatu bentuk pengabdian dari pekerja, dan (3) memberikan kesempatan para pekerja untuk terus berkembang. Ketiga aspek tersebut harus ada di dalam pekerjaan, bila salah satu aspek tidak ada maka tidak layak untuk disebut sebagai pekerjaan.  
Pendefinisian mengenai bidang kerja semakin terfokus dan jelas. Sebagai contoh  adalah Indonesia yang telah memiliki piramida ketenagakerjaan (Gambar 3). Melalui piramida tersebut dapat dilihat apa saja kualifikasi pendidikan untuk menduduki suatu bidang kerja.
Berbeda dengan bidang kerja masa lampau dimana pendefinisiannya masih sangat umum dan kurang fokus. Dengan adanya pendefinisian yang fokus, diharapkan calon pekerja yang akan terjun ke suatu bidang kerja akan memiliki tujuan dan arah yang jelas mengenai kompetensi apa saja yang akan dikembangkan. Maka dari itu, seorang calon pekerja harus memperoleh pembelajaran yang bersifat mampu mengasah kompetensinya dan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sebelum dia benar-benar terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Gambar 3. Piramida Ketenagakerjaan di Indonesia.

Pekerjaan, merupakan tempat dimana seorang individu melakukan kegiatan kerja. Secara ideal perkembangannya ditentukan oleh pergerkan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Namun, pada kenyataannya, pekerjaan dibentuk oleh beberapa kalangan terbatas saja yang memilki modal dan pengaruh yang kuat di dalam kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Sehingga, pembentukan pekerjaan yang seharusnya merupakan cerminan kebutuhan masyarakat bergeser menjadi cerminan kebutuhan kelompok tertentu.
Dengan demikian, dari berbagai polemik tersebut, TVET hadir untuk mendukung secara positif mengenai kebutuhan pekerja dengan kualifikasi yang cukup bervariasi serta menghilangkan kepentingan-kepentingan golongan, dimana, secara khusus di Indonesia, kepentingan golongan dinilai sebagai bibit liberalisme yang harus dihilangkan. Melalui TVET, para calon pekerja dibimbing sekaligus dibekali pengetahuan dan keterampilan sehingga para calon pekerja bisa menjadi pekerja-pekerja yang telah memiliki identitas kerja (identity of work) yang kuat dan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill).


Keunikan TVET

TVET, merupakan bentuk pendidikan unik karena memiliki berbagai ciri khusus yang memberikan cita rasa berbeda dengan pendidikan umum. Salah satu paket keunikan TVET tergambarkan di dalam  Kerangka Kerja Konseptual (Conceptual Framework). Apabila ingin mengadakan TVET untuk suatu bidang tertentu, maka harus di dahului dengan penyusunan Kerangka Kerja Konseptual. Kerangka Kerja Konseptual secara keseluruhan mencerminkan arah pemikiran dan implementasi dari TVET yang bersifat fleksibel.
Fleksibel memiliki arti bahwa Kerangka Kerja Konseptual merupakan gambaran umum yang bersifat kaku, tetapi secara khusus mudah beradaptasi apabila misalnya dihadapkan pada masalah yang sama tetapi pada kondisi yang berbeda. Misalnya, pada bidang komputer secara umum diharapkan mampu mengoperasikan sebuah perangkat lunak desain grafis. Kemudian Kerangka Kerja Konseptual tetap bisa dijadikan acuan meskipun secara khusus ada tempat yang memiliki kebijakan untuk mewajibkan menggunakan perangkat lunak berbayar dan di tempat lain yang memiliki kebijakan untuk mewajibkan menggunakan perangkat lunak tidak berbayar. Minimal, kerangka kerja konseptual berisi beberapa aspek, diantaranya:
1.   Kurikulum
Kurikulum secara garis besar berisi mengenai: apa yang dianggap penting, apa yang diajarkan, dan bagaimana hal itu diajarkan. Kurikulum TVET bersifat mengembangkan manusia yang produktif baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Tiga isu-isu inti di dalam kurikulum vokasionalisme: (a) integrasi pendidikan akademis, karir, dan pendidikan teknik; (b) artikulasi program sekolah menengah atas dan pasca sekolah menengah atas, dan (c) hubungan antara sekolah dan dunia kerja.

2.   Sasaran
Sasaran utama dari TVET adalah individu-individu yang masih belum memiliki keterampilan (low skill) dan paling tidak sudah memiliki pengetahuan dasar yang mendukung pengembangan keterampilan dalam proses pembelajaran agar mereka siap dalam suatu pekerjaan khusus sekaligus mempersiapkan mereka untuk menghadapi transisi dari kehidupan sekolah ke kehidupan nyata.

3.   Teknik Pengajaran
Teknik pengajaran dalam TVET harus bisa mengakomodasi pembelajaran sepanjang hayat, dan mampu untuk membuat iklim sekolah mencerminkan lingkungan tempat kerja nyata (simulasi). Persediaan logistik (infrastruktur) pada TVET jelas memiliki kualifikasi yang lebih tinggi daripada pendidikan umum. Hal ini membuat sekolah kejuruan, memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga biaya penyelenggaraan pendidikan kejuruan mahal. Selain itu, sifat  pengajaran juga memperhatikan aspek ketenagakerjaan, sehingga diharapkan siswa memiliki identitas kerja yang kuat (identity of work). 

4.   Teknik Asesmen
Kebanyakan pendidik sekarang memakai bentuk baru dari evaluasi siswa, disebut dengan istilah asesmen otentik, atau penilaian berbasis kinerja. Dalam asesmen otentik, menuntut siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka tentang pengetahuan dan keterampilan dengan menciptakan respon terhadap pertanyaan atau alat-alat peraga untuk memperdalam pemahaman. Penilaian memperhatikan aspek pengetahuan (kognitif), pemaknaan (afekti), dan moral (psikomotor) siswa.

5.   Teknik Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan TVET. Evaluasi pada TVET tidak hanya terbatas pada keberhasilan program di dalam implementasinya secara intern (in school succes), tetapi evaluasi dilakukan juga secara ekstern (out school succes). In school success menitik beratkan aspek keberhasilan siswa dalam memnuhi persyaratan kurikuler. Out school succes menitik beratkan pada keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya atau keberhasilan lulusan dalam melakukan transisi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kemudian, ada beberapa aspek tambahan yang memberikan cita rasa berbeda dengan pendidikan umum, diantaranya:
1.   Orientasi
Orientasi TVET tidak hanya mempersiapkan individu untuk masuk ke dunia kerja nyata, tetapi TVET juga mempersiapkan individu untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maka dari itu, orientasi tersebut bisa dijadikan alasan logis agar TVET selalu eksis.

2.   Hubungan dengan Industri
Erat kaitannya dengan masalah mahalnya  penyelenggaraan TVET, dan tingginya tuntutan relevansi dengan dunia kerja/industri, maka masalah hubungan antara lembaga pendidikan dengan dunia kerja/industri, merupakan suatu ciri karakteristik yang penting bagi TVET. Perwujudan hubungan timbal balik berupa kesediaan dunia kerja/industri, menampung peserta didik untuk mendapat kesempatan pengalaman belajar di lapangan kerja/industri, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang merupakan bahan untuk dijabarkan ke dalam perencanaan dan implementasi program pendidikan, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya yang saling menguntungkan.

3.   Kepekaan
Salah satu orientasi TVET adalah ke dunia kerja, sehingga TVET harus mempunyai ciri berupa kepekaan atau daya suai terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya, dan dunia kerja pada khususnya. Perkembangan ilmu dan teknologi, inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi dan jasa, besar pengaruhnya terhadap perkembangan TVET. Untuk itulah TVET harus bersifat responsif proaktif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, dengan upaya lebih menekankan kepada sifat adaptabilitas dan fleksibilitas untuk menghadapi prospek karir anak didik dalam jangka panjang.

Dasar Filosofi TVET






Gambar 4. Dasar Filosofi TVET
Gambar 4 merupakan gambaran tiga dasar filosofi yang membentuk kerangka kerja konseptual TVET. Tiga dasar filosofi tersebut antara lain: (a) Esensialisme; (b) Pragmatisme; dan (c) Pragamatisme(Rekonstruksi)/ Eksistensialisme. Dalam pandangan Esensialime, TVET memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar mengenai tenaga kerja. Karakteristiknya antara lain: (a) adanya kurikulum referensi; (b) intrusktur yang memiliki pengalaman di dunia industri; dan (c) sistemnya terpisah dari lingkungan pendidikan akademik.
Dalam pandangan Pragmatisme, TVET memiliki tujuan untuk mempertemukan kebutuhan individu, untuk pemenuhan pribadinya, dan persiapan menjalani hidup. Karakteristiknya antara lain: (a) menekankan pemecahan masalah; (b) berpikir dalam orde tinggi; dan (c) pembelajarannya dikonstruksi  dari pengetahuan sebelumnya. Kemudian dalam pandangan Pragmatisme (Rekonstruksi)/ Eksistensialisme, TVET memiliki tujuan untuk mengubah tempat kerja sebagai tempat yang lebih demokratis dan sebagai tempat untuk pembelajaran dan bukan sekedar tempat kerja praktik biasa dan menghilangkan diskriminasi dalam rekrutmen tenaga kerja.