04 August 2013

Renungan tentang Kesulitan Belajar Bahasa Pemrograman Komputer

Aku merenungkan suatu hal yang mungkin juga direnungkan banyak orang yang telah lama berkecimpung di dunia rekayasa perangkat lunak, namun telah sadar diri bahwa ada titik kesulitan di dalam menguasai sebuah bahasa pemrograman. “Mengapa aku sulit mendapatkan ruh bahasa pemrograman yang aku idam-idamkan untuk aku kuasai?”, mungkin itu pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala seseorang yang belum menemukan jati dirinya di dalam pemrograman komputer. Aku juga bingung, mengapa minat yang besar terhadap suatu bahasa pemrograman komputer kadang tidak diimbangi dengan kecepatan.tingkat penguasaan terhadap bahasa pemrograman komputer tersebut. Menurutku, seharusnya semakin besar minat terhadap suatu bahasa pemrograman komputer maka akan semakin besar pula akselerasi penguasaan terhadap bahasa pemrograman komputer tersebut. Namun kenyataannya tidak demikian, aku akui secara terang-terangan bahwa aku tidak menguasai secara penuh tentang bahasa pemrograman komputer, satupun tidak ada yang aku kuasai secara penuh, entah itu Bahasa C, C++, Java,  Visua basic, ataupun  semacam Javascript dan PHP. Ibaratnya, aku hanya tahu kulitnya, tanpa menyentuh bijinya, apalagi menanam bijinya agar berbuah lebih banyak lagi. Secara garis besar apa yang aku alami dan renungkan ini adalah implikasi dari hal yang aku anggap memalukan sebagai seorang mahasiswa Teknik Informatika, yang notabene pada masa kuliahnya digerojok dengan materi-materi kuliah berbagai bahasa pemrograman komputer. Apakah aku akan menyalahkan sistem perkuliahanku?, tidak. Apakah aku menyalahkan kemampua otakku?, tidak juga. Apakah aku menyalahkan kurang sarana dan prasarana untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer?, jelas tidak mungkin.

04 June 2013

Delapan Teori Pembelajaran Konstruktivistik untuk Pembelajaran Rekayasa Perangkat Lunak





Menurut Navarro & Hoek (2009:40), ada delapan teori pembelajaran berbasis konstruktivistik yang digunakan sebagai dasar paradigma pembelajaran di dalam bidang RPL, yaitu: (1) Learning by doing; (2) Situated Learning; (3) Keller’s ARCS Motivation Theory; (4) Model Centered Instruction; (5) Discovery Learning; (6) Learning Through Failure; (7) Learning Through Reflection; dan (8) Elaboration.

Sekilas Tentang SMK Kompetensi Keahlian RPL





Menurut LSP (2013), ada lima (5) jenis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang membedakan tiap-tiap bidang pekerjaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, yaitu: (a) SKKNI Operator; (b) SKKNI Programmer; (c) SKKNI Jaringan Komputer dan Sistem; (d) SKKNI Computer Technical Support; dan (e) SKKNI Multimedia. Setiap SKKNI berisi indikator-indikator yang harus dipenuhi agar layak disebut sebagai orang yang kompeten di bidang operator, programming, jaringan komputer dan sistem, computer technical support, atau multimedia.