Trend
perkembangan ekonomi era modern saat ini identik dengan pemanfaatan
produk-produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Penggunaan
peralatan-peralatan teknologis berbasis TIK merupakan pioner kemunculan
gagasan ekonomi baru yang merupakan cikal bakal berkembangnya era
ekonomi pada abad 21. Ciri khas perkembangan ekonomi abad 21 adalah
adanya pengolahan informasi, penyimpanan, transfer, dan produksi dengan
kualitas informasi yang tinggi dan murah. Kualitas informasi yang tinggi
dan murah hanya bisa didapatkan dengan mendayagunakan produk-produk TIK
sebagai alat manajemen informasi utama. Dengan kata lain, untuk saat
ini perkembangan ekonomi mau tidak mau harus berjalan dengan menggunakan
produk-produk TIK. Istilah yang cocok untuk menyebut keadaan ini adalah
Economy Development in Digital Information Era, yaitu tumbuh kembang
perekonomian di era informasi digital.
Showing posts with label vocational. Show all posts
Showing posts with label vocational. Show all posts
12 November 2013
04 June 2013
Sekilas Tentang SMK Kompetensi Keahlian RPL
Menurut LSP (2013), ada lima (5) jenis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang membedakan tiap-tiap bidang pekerjaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, yaitu: (a) SKKNI Operator; (b) SKKNI Programmer; (c) SKKNI Jaringan Komputer dan Sistem; (d) SKKNI Computer Technical Support; dan (e) SKKNI Multimedia. Setiap SKKNI berisi indikator-indikator yang harus dipenuhi agar layak disebut sebagai orang yang kompeten di bidang operator, programming, jaringan komputer dan sistem, computer technical support, atau multimedia.
12 April 2012
Rasionalisasi Pembentukan Pendidikan Kejuruan Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai Salah Satu Jawaban Atas Peluang Kerja di Jawa Timur
1.
Pendahuluan
1.1
Latar
Belakang Penulisan Makalah
Jawa Timur merupakan daerah yang memilki potensi industri
dan agrobisnis yang cukup tinggi yang sejalan dengan visi untuk menjadi pusat
agrobisnis terkemuka dan berdaya saing global. Global memiliki arti bahwa
daerah Jawa Timur diharapkan mampu beradaptasi atau tanggap atas segala
perubahan yang terjadi di segala aspek kehidupan masyarakatnya. Akan tetapi, jumlah
angka pengangguran di Jawa Timur masih cukup tinggi, yaitu mencapai 4,16%, atau
hampir 1 juta penduduk Jawa Timur masih belum memiliki pekerjaan (Badan Pusat
Statistik Jawa Timur, 2011). Hal ini memunculkan pertanyaan, apa sebenarnya
yang menjadi penyebab atas hal tersebut?. Apakah memang pengangguran tersebut
benar-benar unemployable men?, atau
sebenarnya mereka adalah employable men
tetapi tidak ada ruang atau tempat untuk mereka bekerja, atau mungkin sudah
tidak ada lagi pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki?.
16 February 2012
Konsep Technical and Vocational Education and Training (TVET) dan Perspektifnya pada Pendidikan di Indonesia
Dalam berbagai literatur berkaitan
dengan pendidikan kejuruan berbahasa asing (Bahasa Inggris) sering dijumpai
istilah TVET. Kepanjangan dari TVET adalah Technical
and Vocational Education and Training. Istilah tersebut terdiri dari 4
(empat) kata inti, yaitu: (1) Technical;
(2) Vocational; (3) Education, dan (4) Training. Apabila dikaji secara mendalam ada perbedaan makna yang
sangat jauh antara Technical dengan Vocational dan antara Education dengan Training.
08 February 2012
Konsep Pendidikan Karir di Amerika Serikat dan Refleksinya terhadap Pendidikan Kejuruan di Indonesia
Pendidikan okupasi dan pendidikan karir muncul sebagai tanda bahwa pemerintah Amerika Serikat secara nyata ingin menciptakan pendidikan yang relevan, berkualitas, dan memiliki persamaan kesempatan berkependidikan untuk semua pihak. Pendidikan okupasi muncul terlebih dahulu dengan konsep bahwa pendidikan tersebut memastikan lulusan memiliki keterampilan dalam lingkup pekerjaan yang sempit, sehingga keterampilan bersifat fokus, mendalam, tidak bebas karena bidang kerja telah ditentukaan diawal, dan benar-benar dipersiapkan secara matang sebagai pekerja sehingga kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi masih kurang. Lebih menekankan aspek psikomotor dan sangat kurang memperhatikan aspek afektif dan kognitif pada siswa. Kemudian di dalam perkembangan selanjutnya muncul pendidikan karir, dimana pendidikan tersebut bersifat lebih fleksibel daripada pendidikan okupasi. Siswa tidak hanya dibekali satu macam keterampilan bidang kerja, akan tetapi dibekali dengan bermacam keterampilan yang notabene hanya bersifat dasar sehingga pada akhirnya diharapkan siswa mampu memilih sendiri bidang kerja yang ingin mereka tekuni dan bahkan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pada pendidikan karir tidak hanya memperhatikan aspek psikomotor saja, melainkan juga sangat memperhatikan aspek afektif dan kognitif setiap individu.
Telaah Dan Saran Berita dari Jakarta Post “Vocational High School in Klaten Produces SUV”
Prestasi siswa SMKN 1 Trucuk, Klaten, Jawa Tengah pada bidang otomotif dalam kemampuannya memproduksi secara mandiri mobil SUV merupakan jawaban yang terpadu dengan visi dan misi pendidikan kejuruan yang secara umum yaitu untuk mewujudkan tamatan yang memiliki kompetensi sesuai bidang keahliannya untuk mengisi pasar kerja, profesional dan adaptif, serta mampu berwirausaha. Apabila dilihat dari bermacam sisi, kompetensi otomotif yang kemudian diruncingkan pada produksi mobil SUV memiliki potensi yang sangat cemerlang baik dalam segi penanaman komptensi dan inventarisasi tenaga kerja yang berkompeten di bidangnya. Penanaman kompetensi yang kemudian berbuah karya seperti ini merupakan cerminan dari sikap profesionalitas kerja dan kemampuan untuk beradaptasi dengan trend terkini dalam bidang otomotif. Selain itu dari segala aspek dari prestasi ini, baik dari segi produk maupun pembuat produk, memiliki potensi positif untuk diletakkan di dalam persaingan pasar kerja baik secara lokal (dalam negeri) maupun global (manca negara).
Subscribe to:
Posts (Atom)


